Berita Terkini

WARTEG, POTENSI DAN PARTISIPASI POLITIK

Oleh : Thomas Budiono Komisioner KPU Kota Tegal   Perhelatan akbar nasional Pemilu Serentak Tahun 2019 telah usai dilaksanakan. Hasilnya sudah diketahui bersama dan sudah diputuskan. Bahkan pemenangnya, baik Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan DPR RI, Pemilihan DPRD Jawa Tengah dan DPRD Kota Tegal, sudah dilantik untuk menduduki jabatannya. Alhasil, tahapan pemilu yang diwarnai dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya itu sudah berakhir indah. Betapa tidak indah ? Pemilu yang ditargetkan oleh pemerintah untuk mencapai angka partisipasi sebesar 77,5 persen itu ternyata hasil dan capaiannya diluar dugaan. Secara nasional angka partisipasi masyarakat dalam Pemilu Serentak kemarin itu sebesar 81,93 persen. Sedangkan angka partisipasi kehadiran masyarakat Kota Tegal ke TPS juga di atas target nasional, yakni  77,94 persen. Bisa dibilang serentak itu adalah pemilu nan sukses. Penuh dengan fasilitasi akses dan lengkap dengan warna-warni ekses.Kesuksesan itu adalah keberhasilan dari peran aktif seluruh komponen masyarakat. Mulai dari pemerintah, penyelenggara, dukungan keamanan dari TNI Polri, organisasi keagamaan, organisasi masyarakat, organisasi wanita dan pemuda serta kelompok dan paguyuban masyarakat di tingkat Rukun Tetangga seperti Kelompok Pengajian, Dasa Wisma dan Pertemuan Ibu-Ibu PKK. Tapi bagi badan penyelenggara, keberhasilan dan kesuksesan itu tetap harus ditindaklanjuti dengan evaluasi secara menyeluruh di seluruh tahapan.Setiap tahapan pemilu itu harus ditelisik persoalan dan daftar masalahnya.Gunanya untuk memperbaiki dan mengantisipasi berbagai potensi masalah.Catatannya, persoalan tersebut jangan sampai terulang kembali di pemilihan mendatang. Di Kota Tegal salah satu yang menjadi perhatian bagi penyelenggara pemilu adalah soal fenomena Warung Tegal aliasa warteg.Sebagai sebuah entitas dan komunitas, warteg menjadi daya tarik dan ruang kampanye yang sangat efefktif dan efesien. Tapi dari sisi angka partisipasi kehadiran orang yang akan menyalurkan hak suaranya, ternyata komunitas warteg tidak terlalu seksi untuk diharapkan sebagai lahan pendulang suara. Kenapa demikian ? Secara sederhana, Warung Tegal atau warteg merujuk pada sebuah nama yang seolah sudah menjadi istilah generik untuk warung makan kelas bawah dan menengah di pinggir jalan, baik yang berada di Tegal maupun di tempat lain, baik yang dikelola oleh orang asal Tegalmaupun dari daerah lain (https://id.m.wikipedia.org). Posisi warteg biasanya akan memilih lokasi atau tempat yang strategis secara ekonomi seiring dengan segmen pasar yang dibidik. Yang pasti, sebagian besar lokasi warteg berada di lingkungan keramaian masyarakat. Bisa jadi tempat yang mereka gunakan adalah di sekitar gang sempit, di atas selokan, kebun kosong yang berdekatan dengan  keramaian pekerja pabrik atau proyek pembangunan yang mempekerjakan buruh dalam jumlah yang besar. Warteg identik dengan rumah makan yang sederhana dengan menu yang sangat beragam.Ada yang direbus, disayur, dibakar, digoreng dan ditumis.Pembeli tinggal pilih langsung masakan dan lauk-pauk mana yang paling disuka. Semua menu dan masakan terpajang transparan di etalase depan. Warteg mengesankan sebuah kejujuran pedagangnya.Tak ada yang disebunyikan.Semuanya serba terbuka. Dari jenis masakan, bahan baku sayur, bumbu dan tampilan masakannya.Pembeli tinggal menunjuk jenis masakan mana yang disuka dan diminta. Soal harga jangan ditanya.Sangat murah.Tampilannya pun sungguh meriah.Rasanya sangat pas sekali di lidah.Dan seusai menikmati dan menyantap makanan ala warteg ini dipastikan kenyang sekenyang-kenyangnya.Serta porsi yang diberikan kepada pembeli adalah porsi “kelas berat”, dengan nasi putih sepiring penuh ditambah berbagai sayur dan lauk yang disuka. Porsi berat ini memang sesuai dengan sebagian besar pembeli yang datang.Sebagian besar mereka adalah masyarakat kelas bawah yang terdiri dari sopir angkutan umum, tukang bajaj, kaum buruh, pekerja kasar, pekerja pabrik dan pekerja bangunan yang ada di sekitarnya.Mereka biasanya disebut sebagai pekerja kerah biru atau blue collar workers.Dan tidak menutup kemungkinan ada warteg yang melayani konsumen kelas menengah. Sebagai sebuah warung yang diperuntukkan masyarakat kelas bawah mengesankan sebuah kebebasan. Yang datang ke warteg bisa siapa pun, dengan berpakaian apa pun. Ada yang datang dengan celana pendek, hanya mengenakan kaos dengan selendang handuk kecil yang lusuh.Ada pula yang datang lengkap dengan pakaian kerja sebagai buruh bangunan atau pekerja gali bangunan di sebuah proyek pembangunan. Cara makannya pun bebas.Ada yang tertib makan di meja dan kursi yang disediakan.Ada pula yang bergaya makan dengankaki naik ke atas kursi kayu panjang.Dalam kondisi warung yang penuh sesak dengan pengunjung, ada pula diantara mereka yang rela makan hanya sembari duduk atau jongkok di teras warung yang sempit. Tidak ada data resmi yang mencatat berapa jumlah warteg yang bertebaran hamper di semua kota besar di Indonesia. Di tahun 2010 ada yang memeprkirakan jumlah warteg yang berada di Jabodetabek mencapai 34.000 (http://news.okezone.com (06/12/2010).Dan saat ini jumlahnya sudah bertambah berkali libat di atas ratusan ribu. Potensi Politik Saat ini warteg sudah menjadi entitas dan ikon kesederhanaan dan simbol masyarakat kecil.Karenanya, banyak yang menjadikan dan memanfaatkan warteg ini untuk mendongkrak popularitas dengan tujuan politis. Warteg sering dijadikan sebagai medan subur menumbuhkembangkan elektabiltas orang yang akan merebut simpati masyarakat. Ini terjadi karena karena warteg identik dengan keperpihakan dengan masyarakat kecil.Membela rakyat jelata dan bentuk empati dengan komunitas kelas marginal.Kenyataan ini terbukti ketika ada perhelatan demokrasi Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta tahun 2012 lalu. Saat itu ada calon gubernur yang akan ikut berlaga dalam Pilkada DKI Jakarta itu yakni Joko Widodo dan Basuki Cahaya Purnama alias Ahok. Dua tokoh ini makan siang dalam di sebuah warteg, setelah beberapa waktu  blusukan ke berbagai tempat. Startegi kampanye itu mengesankan sang calon sangat akrab dan perhatian terhadap masyarakat kelas bawah.Tampilannya sederhana dan merakyat serta membela dan berpihak terhadap kaum lemah.Singkat cerita, dengan mengunjungi dan makan di warteg, Jokowi dan Ahok terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017. Hal yang sama dilakukan pula oleh para kandidat yang menjadi calon di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Makan di warteg menjadi salah satu cara untuk mendapatkan citra yang baik. Barangkali ini terilhami oleh kemenangan Jokowi pada tahun 2012 yang sering melakukan kampanye di kampung-kampung dan lingkungan kumuh dan selalu diakhiri dengan  makan di warteg. Cara menarik simpati masyarakat dengan caramakan di warteg diharapkan para kandidat ini bisa menarik perhatian dan mendapat dukungan dari masyarakat kelas bawah dan sekaligus memenangkan pertarungan. Caranya dengan melakukan kampanye terbuka dengan ritual makan di warteg. Dengan berkunjung makan siang di warteg dalam suasana makan yang sangat lahap mengesankan bahwa sang kandidat adalah tokoh yang identik dengan kesederhanaan dan selalu membela kepentingan masyarakat miskin yang terpinggirkan. Di pilkadaKota Tegal, warteg juga menjadi sasaran untuk memperoleh dukungan.Menjelang hari pemungutan suara, ada calon Walikota dan Wakil Walikota yang mempunyai strategi mendekati komunitas warteg. Mereka sengaja menyediakan angkutan umum dari berbagai titik di Jabodetabek bagi pengusaha, pemilik atau karyawan warteg yang akan pulang untuk menyalurkan hal suaranya. Dan benar, saat menjelang hari pencoblosan bus-bus gratis ini penuh sesak penumpang dari Jakarta untuk kembali pulang ke kampung halamannya di Kota Tegal.Selain untuk datang ke TPS, sebagian besar mereka pulang kampung untuk menyalurkan rasa kangen ke sanak keluarga dan teman-teman sebayanya. Angka Partisipasi Sebagai aset untuk membentuk opini publik, warteg memang patut diacungi jempol.Namun ditilik dari tingkat partisipasi dalam Pemilu Serentak Tahun 2019, komunitas pedagang dan pengusaha warteg, sungguh memprihatinkan. Di Kota Tegal, 3 kecamatan memperoleh angka partisipasi di atas angka 80 persen. Hanya satu kecamatan, yakni Kecamatan Margadana, dimana banyak pedagang dan pengusaha warteg, yang tingkat partisipasinya rendah, yakni 62,77 persen. Angka Partisipasi Pemilu Serentak Tahun 2019 Di Kecamatan se Kota Tegal   Nomor Kecamatan Angka Partisipasi (%) Keterangan       1. Tegal Selatan 80,85 Cabawan (47,61 %) dan Krandon (49,04%) Terendah       2. Margadana 62,77       3. Tegal Barat 82,42       4. Tegal Timur 81.97   Kenapa Kelurahan Cabawan dan Krandon tingkat partisipasi sangat rendah dibawah 50 persen ?Belum ada data resmi yang memastikan penduduk di kedua kelurahan ini enggan ke TPS.Yang pasti, sebagian besar penduduk di dua kelurahan itu bermatapencaharian sebagai pedagang dan pengusaha warteg. Artinya, sebagaian besar penduduknya sebagai pekerja urban, yang mencari nafkah di luar kota. Tepatnya, di hampir seluruh kota-kota besar yang ada di Jawa, bahkan ada yang sudah menembus ke luar Pulau Jawa. Akibatnya, saat hari pemungutan suara mereka tidak berada di kampung halamannya.Alhasil, mereka ini tidak bisa ikut berpartisipasi datang untuk menyalurkan aspirasi politiknya di bilik suara. Bukan hanya pemilik warteg saja yang tak bisa mencoblos, tapi seluruh karyawan yang bekerja di warteg itu pun tidak bisa ikut nyoblos. Padahal setiap warteg mempekerjakan 3 hingga 5 orang.Ini berarti, jika saat ini jumlah warteg mencapai angka 40.000, maka orang yang bekerja di sektor informal ini sangat besar.Dan angka sejumlah itu tidak bisa pulang kampung untuk berpartisipasi pada setiap pemilihan.Kondisi ini semakin parah, tatkala diketahui system kerja warteg adalah aplusan alias gantian. Biasanya, warteg dikelola dengan sistem keluarga. Setelah mengelola 3 atau 4 bulan, biasanya mereka aplusan dengan saudara yang lain selama waktu yang mereka sepakati bersama. Jadi pada kondisi apa pun hamper ada separuh dari warga di Cabawan dan Krandon, yang bekerja di luar kota. Dalam Pilkada Kota Tegal Tahun 2018 lalu, ada ide untuk melakukan sosialisasi ke kota-kota besar dimana banyak komunitas warteg.Usaha pernah dilakukan untuk kordinasi dengan paguyuban atau koperasi yang anggotanya pedagang warteg.Tapi persoalannya, bukan mereka terlalu apatis terhadap partisipasi politik.Persoalannya adalah mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai penopang hidup dan kehidupan keluarganya. Bahkan pernah disarankan kepada pengusaha dan karyawan warteg untuk pindah alamat dan menjadi pemilik KTP di tempatnya bekerja, agar mereka bisa mencoblos.Tapi saran ini pun tidak bisa mereka lakukan.Mereka masih senang dan merasa bangga jika masih terdaftar sebagai penduduk di Kota Tegal.Mereka bisa bersuka cita mudik dan berlebaran di kampung halaman.Tetapi diyakini, suatu saa pengusaha dan pekerja warteg ini, atas kesadarannya sebagai warga masyarakat, akan ikut aktif dalam perhelatan dan tahapan pemilu atau pemilukada yang akan digelar di masa mendatang. Wallahua’lam.

PEMILU 2019 : PARTISIPASI PEMILIH KOTA TEGAL MELEBIHI TARGET

Menutup tahun 2019, KPU Kota Tegal menggelar acara konferensi pers terkait data-data Pemilu Serentak Tahun 2019. Data-data tersebut disampaikan kepada wartawan media cetak, elektronik dan online pada hari Senin (30/12) di Rumah Makan Dapoer Tempo Doeloe Margadana. Dalam kesempatan tersebut Ketua KPU Kota Tegal, Elvi Yuniarni menyampaikan data Calon Anggota DPRD Kota Tegal terpilih. Dari 30 orang calon terpilih, hanya ada 4 (empat) orang atau sebesar 13% perempuan yang terpilih sebagai wakil rakyat di DPRP Kota Tegal. Itupun berasal hanya dari 3 partai politik, yaiti PDIP, Golkar, dan PAN. Anggota KPU Kota Tegal Thomas Budiono juga menyampaikan bahwa dari data pemilih (DPT) sebanyak 204.852 orang, ada 158.930 orang yang hadir untuk memberikan suaranya di TPS. Atau dengan kata lain, tingkat partisipasi pemilih di Kota Tegal pada Pemilu Serentak 2019 sebesar 77,58%. Angka tersebut melebihi angka yang ditargetkan oleh KPU RI, yaitu sebesar 76%. (wh)

EVALUASI PENCALONAN : PARPOL KESULITAN MENCALONKAN PEREMPUAN

Tahapan Pemilu Serentak 2019 telah berakhir. Semua calon terpilih telah ditetapkan dan dilantik sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun ada hal yang menjadi catatan dari hasil penyelenggaraan Pemilu tersebut, dalam hal ini dari parpol peserta pemilu. Seperti diketahui, dalam mendaftarkan calon-calon anggota DPR maupun DPRD, oleh undang-undang, parpol diwajibkan untuk memenuhi kuota 30% calon perempuan. Hal ini menyulitkan bagi parpol karena sebagian besar tidak memiliki kader perempuan seperti yang dipersyaratkan. Hal tersebut terungkap saat KPU Kota Tegal menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Pencalonan Pemilu Serentak 2019 pada hari Kamis (19/12) di Hotel Premiere Tegal. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Dra. Putnawati, M.Si Divisi Teknis KPU Provinsi Jawa Tengah dan Fajar Subkhi A.K. Arif, SH., MH., Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut, beberapa peserta FGD memberikan masukan, antara lain KH. Nadirin Maskha, Ketua Organisasi Muhammdiyah Kota Tegal. Ia menyampaikan agar partai politik tetap melaksanakan tugas pengkaderan agar tidak mengalami kendala saat tahapan pencalonan pemilu. Acara FGD tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Forkompinda, parpol, perguruan tinggi, camat, beberapa KPU Kabupaten sekitar, organisasi kemasyarakatan, serta Instansi terkait. Semua peserta dan penyelenggara sepakat agar kegiatan evaluasi tersebut tidak hanya menjadi formalitas belaka, tapi dapat menjadi alat untuk perbaikan pemilu yang akan datang. (wh)

AUDIENSI RRP KE 42 PERGURUAN TINGGI

Komisi Pemilihan Umum Kota Tegal Rabu (13/11/19) melaksanakan Audiensi Rumah Pintar Pemilu (RPP) kepada mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama KPU Kota Tegal, Universitas Pancasakti Tegal dan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dan dipancarluaskan melalui Video Coference ke 42 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Kegiatan sosialisasi pendidikan pemilih itu diiukuti 50 mahasiswa Fakultas HUkum, dengan narasumber tunggal dari Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat serta SDM, KPU Kota Tegal, Thomas Budiono. Durasi sosialisasi selama  90 menit itu dipancarluaskan ke 42 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Antara lain Universitas Indonesia di Jakarta, Universitas Gajahmada di Jogyakarta, Universitas Diponegoro di Semarang, Universitas Brawijaya di Malang, Universitas Airlangga di Surabaya, Universitas Udayana di Bali, Universitas Borneo Tarakan, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih. Dalam penjelasan Thomas Budiono menegaskan bahwa Audiensi RPP merupakan usaha agar pelaksanaan pemilihan umum di masa yang akan datang akan lebih baik. Semakin banyak pemilih yang paham proses pemilu dan demokrasi dapat meringankan kerja penyelenggara pemilu. Selain itu kerjasama ii untuk meningkatkan partispasi pemilih dan meningkatkan kualitas pemilih. “KPU mengharapkan kepada semua komponen masyarakat, termasuk mahasiswa bisa menjadi voluntir atau sukarelawan demokrasi yang bisa mengedukasi masyarakat di lingkungannya masing-masing”, tegas Thomas Budiono. Hal itu semakin penting karena berdasar pengalaman Pemilu Serentak Tahun 2019 lalu, selama tahapan pemilu banyak diwarnai beredarnya berita bohong atau hoak, provokasi intens isu anti Sara dan maraknya praktik-praktik politik uang. Dalam segmen diskusi bahwa mahasiswa yang menegaskan bahwa mereka adalah komunitas masyarakat yang menolak keras adanya politik uang. Politik uang justru akan menyengsarakan masyarakat. Sebab ujung dari praktik politik uang akan bermuara pada tindakan koruptif yang justru akan menyengsarakan masyarakat. Dari kalangan mahasiswa banyak yang masukan yang patut dicatat dan digarisbawahi. Antara lain soal volume kerja petugas KPPS yang melebihi batas daya tahan tubuh manusia. Buktinya banyak petugas KPPS yang jatuh sakit, keguguran bahwa ada yang meninggal dunia. Mereka berharap pemilu didesain sedemikian rupa dengan agar tidak memakan korban jiwa. Soal golput ? “Menyalurkan hak suara adalah hak masyarakat. Tetapi sikap apatis dengan tidak menggunakan hak suara alias golput, bukanlah solusi terbaik. Yang pasti, mencoblos itu bukan hanya memilih calon pemimpin yang terbaik, tetapi memilih itu juga mencegah calon pemimpin yang jelek atau buruk agar tidak menjadi pemimpin di negeri ini”, tandas Thomas Budiono. Selama paska Pemilu Serentak Tahun 2019 lalu, KPU Kota Tegal telah melaksanakan 24 kegiatan yang terkait Fasilitasi dan Audiensi RPP. Sasarannya beragam. Ada kelompok mahasiswa, anak-anak SMA dan SMK, siswa siswa SMP serta anak-anak pra pemilih yang mendapatkan materi demokrasi, toleransi dan sikap saling menghargai.

ANAK PAUD DIPERKENALKAN PEMILU DI KPU

Hari ini (8/11) kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tegal, ramai dikunjungi anak-anak berusia 3 – 6 tahun. Mereka berasal dari Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi Slerok Kota Tegal. Sebelumnya, sudah ada beberapa Pos PAUD (PP) atau Kelompok Bermain (KB) yang berkunjung, antara lain PP Nusa Indah, PP Dewi Sartika, PP Seruni, dan KB Tunas Mutiara. Anak-anak itu diterima langsung oleh Komisioner KPU Kota Tegal Divisi Teknis, yaitu Lis Herawati, D.I.Pust. Dengan berkunjung ke KPU, diharapkan anak-anak ini dapat diperkenalkan dengan pemilu dan demokrasi secara langsung. Selain bermain dan belajar, anak-anak itu juga diberikan waktu untuk mewarnai gambar. Gambar yang disediakan memperlihatkan situasi di dalam TPS. Anak-anak juga diperkenalkan dengan peralatan saat pemilu, misalnya kotak suara, alat coblos dan surat suara. Di akhir kegiatan, sebagai kenang-kenangan, KPU memberikan tiruan surta suara yang berisi foto anak-anak tersebut sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden tahun 2050. Guru pendamping anak-anak, sebagai wakil dari pihak sekolah, berpendapat bahwa kegiatan ini sangat positif dan diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.