Berita Terkini

Membangun Citra Lembaga dengan Mengoptimalkan Fungsi Kehumasan

Meskipun di masa pandemi, Komisi Pemilihan Umum tetap produktif dalam menyelenggarakan kegiatan rutinnya. Seperti yang baru saja dilaksanakan kemarin (26/4) dalam rangka penguatan kapasitas kehumasan KPU Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan workshop secara online yang bekerja sama dengan Diskominfo Jawa Tengah dengan tema “Meningkatkan Citra Lembaga melalui Pengelolaan Konten Media Sosial dan Optimalisasi Fungsi Kehumasan”. Hadir sebagai narasumber Asmono Wikan, Founder and CEO Humas Indonesia.ID dan Wicaksono, Social Media Advisor.

“Menempatkan humas sebagai juru foto menjadikan humas berada pada posisi yang tidak strategis. Apalagi setelah itu foto hanya disimpan dan tidak di share. Humas harus berani memulai berkomunikasi awal dengan publik, karena humas berada di antara area organisasi dan publik. Apabila publik menangkap pesan dengan baik yang disampaikan oleh humas maka itu akan menjadi citra positif bagi publik”, demikian yang disampaikan oleh Asmono Wikan ketika membuka penyampaian materinya yang berjudul Storytelling, Cara Efektif Lembaga Meningkatkan Citra dan Reputasi.
“Humas itu bagaikan dua sisi mata uang, sisi satunya adalah sebagai pendongeng yang bisa merubah perilaku masyarakat sedangkan disisi lain humas berfungsi menahan serangan hoax yang dilakukan oleh para netizen agar lembaga tetap eksis dan tidak mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat. Untuk itu humas dapat mendeteksi isu mana yang di butuhkan publik daripada kebutuhan internal lembaga. Disinilah perlu adanya manajemen isu yang harus di tekankan dalam kehumasan”, tambahnya.

Dijelaskan pula, selain menceritakan hal- hal yang menarik, Humas juga dituntut harus jujur dan mengungkap kebenaran dengan menyediakan fakta yang konkret. Karena dari sinilah kepercayaan masyarakat dibangun. Karena pada dasarnya reputasi berkolerasi dengan persepsi, reputasi baik maka persepsipun akan baik, demikian pula sebaliknya. Sehingga humas mampu bercerita dengan baik dengan mengarah pada tujuan organisasi, satu visi yang sama dan searah bergerak dengan belajar dan bertanya. Dengan cara bercerita atau bertutur lebih diminati daripada penyampaian naratif yang mungkin akan sangat membosankan. Sehingga perlunya pengemasan narasi yang menarik menjadi sebuah cerita yang disampaikan oleh publik.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Wicaksono dalam penyampaian materinya Strategi dan Optimalisasi Media Sosial. Disini disampaikan bahwa faktor penentu engagement rate sebuah akun media sosial berasal dari seberapa banyak jumlah like, comment, share dan save yang dilakukan oleh followers. Engagement rate adalah matrik dalam pemasaran digital untuk mengukur kinerja konten dimedia sosial seperti instagram. Semakin tinggi angka persentase engagement rata, maka semakin bagus.

Seperti kita tahu bahwa fungsi penting dari kehumasan adalah mengoptimalkan peran dari media sosial, apalagi di era pandemi seperti ini. Peran media sosial seperti Facebook, Youtube, Instagram dan Twitter sangatlah penting,

“Tidak semua akun harus di miliki oleh sebuah lembaga atau organisasi. Humas harus mengetahui titik bidik yang lebih banyak menggunakan media sosial, seperti KPU, dimana pangsa pasarnya adalah pemilih pemula yang lebih banyak menggunakan platform Youtube, akan lebih baik jika KPU memaksimalkan platform Youtube daripada twitter atau instagram. Jangan membuat konten kalau tidak ada relevansi dengan penggunanya, karena konten yang interaktif akan mendapat perhatian yang besar dari follower dan mempunyai awareness, Karena pada dasarnya media sosial adalah media pamer, tergantung tingkat noraknya,” imbuh Wicaksono.

Humas KPU mempunyai posisi sangat strategis. Humas ini yang memberikan posisi citra baik atau buruknya bagi lembaga. Humas memiliki fungsi untuk memberikan gambaran, profil KPU. Untuk itu perlu adanya penguatan kapasitas kehumasan. Forum workshop ini sangatlah bermanfaat bagi garda kehumasan yang bekerja sebagai “corong” lembaga.(hny)

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 24 kali