Beranda Berita KPU DEMOKRASI KAMPUS: DEBAT PUBLIK PEMILIHAN RAYA POLITEK HARAPAN BERSAMA KOTA TEGAL...

DEMOKRASI KAMPUS: DEBAT PUBLIK PEMILIHAN RAYA POLITEK HARAPAN BERSAMA KOTA TEGAL SEBAGAI PENGENALAN DEMOKRASI SEJAK DINI

Pergurun Tinggi sebagai sebuah institusi independen yang merupakan tempat bagi pendidikan para kaum intelektual. Sesuai dengan isi Tri Darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian, Badan Eksekutif Mahsiswa (BEM) sebagai badan pelaksana kegiatan mahasiswa merupakan organisasi teratas di universitas atau Perguruan Tinggi yang mewadahi aspirasi seluruh mahasiswa.

Birokrasi kampus yang menganut paham demokrasi memberikan kesempatan seluruh mahasiswa untuk berkontribusi dalam aktor pemangku jabatan BEM. Sesuatu ajang bergengsi yang di mana setiap tahun dilaksanakan dalam dinamika politik kampus. Puncaknya mewujudkan pesta demokrasi untuk pemilihan suatu pemimpin dengan gelar Presiden Mahasiswa yang dipilih dengan pungutan suara langsung.
Sudah tidak asing didengar pergelaran pesta demokrasi tersebut banyak menimbulkan dinamika yang rumit, intervensi dari segala arah bermunculan untuk mengejar kemenangan, sehingga fungsi, arah dan tujuan BEM yang sejatinya untuk mewadahi aspirasi seluruh mahasiswa terlupakan, karena permainan politik untuk mendapatkan jabatan.
Dalam acara Debat Publik Pemilihan Raya 2021 Politek Harapan Bersama Kota Tegal, Senin (22/3) anggota Komisioner KPU Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat Thomas Budiono menyampaikan bahwa demokrasi itu harus terus berjalan supaya muncul ide dan gagasan- gagasan ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, perlu juga ditanamkan pada mahasiswa untuk selalu berbeda pendapat sejak dini agar memahami proses sebuah demokrasi.
Dalam pemilihan BEM Politek Harber ini ada dua paslon yang menjadi kandidat. Pasangan pertama Hanif Al Jauzi dan Wilda Vini Alfiyah, sementara untuk paslon kedua Ilham Radiansyah dan Abdul Syukur. Dalam perdebatan itu masing-masing pasangan calon adu visi, misi dan program kerja manakala mereka terpilihan sebagai Presiden BEM. Perdebatan itu diikuti oleh seluruh himpunan mahasiswa yang ada di Poltek Harber Tegal.
Berdebatan berjalan dengan seru dan dinamis. Masing-masing pasangan calon mengemukakan ide, gagasan dan visi yang akan dilaksanakan untuk kemajuan kampus dan mahasiswanya. Ide pasangan calon ini pun dikritisi, dianalisa bahkan dikuliti oleh peserta debat. Namun seluruh peserta tetap mengedepankan toleransi untuk menghormati perbedaan pendapat sebagai inti demokrasi.
Sebagai aktivis dan insan kampus, mahasiswa harus mempunyai nilai yang lebih sehingga bisa menjadi contoh bagi mahasiswa lainnya. Itu artinya sebagai mahasiswa harus bertanggungjawab dengan tugas pendidikan yang harus diembannya. Di sisi lain, ketika terpilih menjadi pemimpin mahasiswa harus bisa amanah dengan program kerja dan visi misinya.
Sementara menurut Bidang Kemahasiswaan dan Kepemimpinan Poltek Haraber, Prasetyo menegaskan sejatinya mahasiswa bisa membuat kelompok diskusi yang mengangkat isu- isu yang sedang berkembang dalam masyarakat. Jadi mahasiswa tidak hanya sebagai oposan atau pengkritik kebijakan pemerintah namun bisa memberikan ide yang solutif untuk perbaikan kehidupan masyarakat.
Perlu membaca buku dan memperbanyak literasi. Jangan hanya fokus dengan bidang yang diambilnya saja, karena masyarakat perlu influencer seperti mahasiswa yang mempunyai wawasan dan pemikiran yang terbuka sehingga mampu menjadi penggerak dalam perbaikan.
Peran birokrasi kampus sangat menentukan dinamika demokratis keorganisasian di tataran mahasiswa dalam perguruan tinggi. Segala bentuk kepentingan individu dan pribadi seyogyanya dikesampingkan agar tidak terjadi polemik. Jika tidak, benih-benih dan jiwa demokratis yang diharapkan lahir dari perguruan tinggi hanya menjadi isapan jempol.

Berita Terbaru